Daging Kambing dan Daging Sapi, Benarkah Selalu Bikin Kolesterol dan Darah Tinggi? I RS Roemani
- 26 Mei 2026
- 239
Kontributor : Feby Nurmalia

Siklus haid yang tidak teratur, terutama pada remaja dan perempuan muda sering dianggap normal. Namun, jika kondisi ini berlanjut secara konsisten dan disertai dengan gejala lain seperti jerawat yang parah, kesulitan menurunkan berat badan, atau pertumbuhan rambut di area yang tidak biasa, itu mungkin bukan hanya "telat haid" biasa. Kondisi ini bisa menjadi indikasi PCOS, gangguan hormon yang lebih umum dari yang orang pikirkan dan berbahaya jika tidak ditangani.
PCOS (Polycystic Ovary Syndrome) atau Sindrom Ovarium Polikistik adalah gangguan hormon yang menyerang wanita di usia reproduksi. Pada situasi seperti ini, indung telur, atau ovarium, tidak melakukan fungsinya sebagaimana mestinya.
Satu sel telur biasanya matang dan dilepaskan setiap bulan melalui proses yang disebut ovulasi, tetapi pada penderita PCOS, proses ini terganggu. Setelah sel telur tidak berkembang secara sempurna dan tidak dilepaskan, mereka menumpuk di dalam ovarium dan membentuk kantong kecil berisi cairan yang disebut sebagai "kista" saat diperiksa melalui USG.
Akibatnya, kadar hormon dalam tubuh menjadi tidak seimbang, terutama dengan peningkatan hormon androgen, yang biasanya dominan pada pria. Ini adalah dasar dari berbagai gejala yang ditimbulkan oleh penderita PCOS.
Berdasarkan meta-analisis terbesar yang melibatkan 119 studi dari seluruh dunia dan dipublikasikan di jurnal Human Reproduction Update (2025), prevalensi PCOS pada perempuan dewasa secara global mencapai 12,1% berdasarkan Kriteria Rotterdam standar diagnosis yang berlaku internasional. Data Global Burden of Disease (GBD) 2021 mencatat bahwa total perempuan di seluruh dunia yang hidup dengan PCOS mencapai 69,5 juta jiwa. Yang lebih mengkhawatirkan, beban penyakit ini terus naik meningkat 28% dari tahun 1990 hingga 2021 menurut analisis yang diterbitkan di Frontiers in Reproductive Health (2025). Kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia mencatat pertumbuhan beban PCOS paling cepat di dunia, dengan angka pertumbuhan tahunan yang signifikan. WHO juga menyebutkan bahwa 70% perempuan dengan PCOS belum terdiagnosis dan tidak mengetahui kondisinya.
Di Indonesia, data prevalensi nasional PCOS yang resmi dan menyeluruh belum tersedia. Namun berdasarkan penelitian yang ada, diperkirakan sekitar 4–18% perempuan usia reproduksi di Indonesia mengalami PCOS (POGI, dikutip dalam Jurnal Abdimas Kedokteran dan Kesehatan, 2024). Sebuah studi dari RS Cipto Mangunkusumo Jakarta mencatat bahwa dari 105 pasien PCOS yang teridentifikasi, 94,2% mengeluhkan siklus haid yang tidak teratur. Sementara data dari rumah sakit di Semarang menunjukkan tren kasus PCOS yang terus meningkat setiap tahunnya. Fakta ini menunjukkan bahwa PCOS adalah masalah nyata di Indonesia yang masih banyak terabaikan.

Ini adalah gejala yang paling sering terjadi. Haid dapat sangat terlambat, jarang (kurang dari 8 kali setahun), atau bahkan tidak muncul sama sekali selama berbulan-bulan. Sebagian penderita juga mengalami haid yang sangat banyak dan tidak menentu.
Penderita PCOS biasanya memiliki jerawat yang tak biasa di area rahang, pipi bawah, dan punggung. Jerawat ini biasanya dalam dan nyeri, dan tidak membaik meskipun menerima perawatan teratur. Ini terjadi karena hormon androgen yang berlebihan merangsang produksi minyak berlebih di kulit.
Rambut tumbuh di bagian tubuh yang tidak biasa dan biasanya lebih banyak, seperti di atas bibir, dagu, dada, atau perut bawah. Kondisi ini terjadi pada sekitar 70–80% penderita PCOS, dan seringkali menjadi masalah besar bagi pasien.
Paradoksnya, rambut di kepala dapat menipis dengan pola yang mirip dengan kebotakan pria, terutama di bagian atas. Keadaan ini dikenal sebagai alopecia androgenik.
Banyak penderita PCOS mengalami kenaikan berat badan, terutama di daerah perut, meskipun mereka tidak mengkonsumsi makanan yang berlebihan. Ini terkait dengan resistensi insulin, yang menghalangi tubuh untuk mengolah gula darah.
Bercak kulit yang lebih gelap dan sedikit menebal muncul di ketiak, selangkangan, atau leher belakang. Kondisi ini disebut acanthosis nigricans dan menunjukkan bahwa tubuh memiliki resistensi insulin.
PCOS adalah penyebab utama infertilitas pada perempuan usia reproduksi karena gangguan ovulasi, yang mengurangi kemungkinan sel telur bertemu sperma.
Penyebab pasti PCOS hingga saat ini belum sepenuhnya diketahui. Para ahli meyakini kondisi ini terjadi karena kombinasi beberapa faktor:
Resistensi insulin merupakan komponen yang paling umum, kondisi ini terjadi ketika sel-sel tubuh tidak merespons insulin dengan baik, terjadi pada hampir 70% penderita PCOS. Akibatnya, pankreas menghasilkan lebih banyak insulin. Kelebihan insulin ini mendorong ovarium untuk menghasilkan androgen berlebih, yang mengganggu ovulasi.
PCOS cenderung menurun dalam keluarga. Jika ibu atau saudara perempuan mengidap PCOS, risiko Sobat Roemani mengalaminya juga lebih tinggi.
PCOS menyebabkan ovarium menghasilkan hormon androgen yang berlebihan, yang menghambat pematangan sel telur dan menyebabkan gejala fisik seperti jerawat, hirsutisme, dan rambut rontok di kepala.
Studi menunjukkan bahwa penderita PCOS cenderung memiliki tingkat peradangan (inflamasi) yang lebih tinggi dalam tubuh mereka, meskipun dalam derajat ringan. Peradangan ini juga mendorong produksi androgen oleh ovarium.
Pola makan tinggi gula dan lemak, kurang aktivitas fisik, serta stres berkepanjangan terbukti memperburuk resistensi insulin dan memperberat gejala PCOS terutama pada mereka yang sudah memiliki kecenderungan genetik.
Tidak ada pemeriksaan yang dapat langsung memastikan PCOS. Untuk mendiagnosis kondisi ini, dokter akan menggunakan Kriteria Rotterdam, standar diagnosis internasional, yang berarti diagnosis dibuat jika ditemukan minimal dua dari tiga kondisi berikut.
Siklus haid lebih dari 35 hari, atau haid datang kurang dari 8 kali dalam setahun.
Terbukti dari pemeriksaan darah (kadar hormon tinggi) atau dari gejala klinis seperti jerawat parah, hirsutisme, atau kerontokan rambut kepala.
Ditemukan banyak folikel kecil di satu atau kedua ovarium.
Selain itu, untuk menilai kondisi secara menyeluruh, dokter juga biasanya memeriksa profil lemak, hormon reproduksi, dan kadar gula darah.
Banyak orang menganggap PCOS hanya masalah haid yang tidak teratur yang dapat sembuh sendiri. Namun, jika tidak ditangani, PCOS dapat berkembang menjadi berbagai masalah kesehatan yang serius:
Akibat resistensi insulin yang tidak dikelola, perempuan dengan PCOS memiliki risiko 5-10 kali lebih tinggi terkena diabetes tipe 2.
Risiko hipertensi, kolesterol tinggi, dan penyakit jantung meningkat signifikan.
Siklus haid yang tidak teratur meningkatkan risiko kanker lapisan rahim karena lapisan rahim menebal tanpa luruh secara normal.
Gangguan ovulasi yang disebabkan oleh PCOS adalah penyebab utama kesulitan hamil.
Penderita PCOS yang hamil tetap berisiko lebih tinggi mengalami diabetes gestasional dan preeklampsia.
Sleep apnea (berhenti napas saat tidur) lebih sering ditemukan pada penderita PCOS, terutama yang memiliki kelebihan berat badan.
Gangguan kesehatan mental lebih umum ditemukan pada penderita PCOS dan berdampak nyata pada kualitas hidup sehari-hari.
Jangan tunda konsultasi ke dokter kandungan (SpOG) jika mengalami satu atau lebih kondisi berikut:
Semakin cepat terdeteksi, semakin besar peluang untuk mencegah komplikasi jangka panjang.
PCOS adalah kondisi yang nyata, umum, dan bisa berdampak besar pada kualitas hidup bukan sekadar "haid tidak teratur yang akan sembuh sendiri." Dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat, sangat banyak perempuan dengan PCOS yang bisa menjalani hidup sehat, aktif, dan memiliki kehamilan yang berhasil.
Jika Sobat Roemani atau orang-orang terdekat mengenali gejala-gejala yang disebutkan di atas, jangan ragu untuk segera berkonsultasi.
Yuk konsultasikan kondisi Sobat Roemani di RS Roemani Muhammadiyah Semarang bersama dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi (SpOG) terpercaya. Kami siap membantu Sobat Roemani memahami kondisi dan menentukan langkah terbaik ke depan.
Kesehatan reproduksi Sobat Roemani adalah bagian penting dari kesehatan secara keseluruhan, maka jaga sejak dini.
📍 Instalasi Poliklinik – RS Roemani Muhammadiyah Semarang
Jl. Wonodri No 22, Semarang
☎️ (024) 8444625 / 8444626
📱 WhatsApp Customer Service: 089531464260
📅Cek jadwal Poliklinik RS Roemani
📅 Pendaftaran Online RS Roemani
Buka
Senin - Jumat 07.00 - 21.00
Sabtu 07.00 - 19.00
Rumah Sakit Roemani Muhammadiyah Semarang
Rumah Sehat Keluarga Islami
Referensi
Tidak ada Komentar