Daging Kambing dan Daging Sapi, Benarkah Selalu Bikin Kolesterol dan Darah Tinggi? I RS Roemani

Oleh: Amaliarf 26 Mei 2026 08:50:03
0 Komentar 234 Penonton

Saat momen Idul Adha, acara keluarga, atau makan bersama teman, olahan daging kambing dan daging sapi hampir selalu jadi menu favorit. Mulai dari sate kambing, tengkleng, gulai, rendang, sop sapi, hingga tongseng sering membuat banyak orang “kalap” makan.

Namun setelah makan daging merah, tidak sedikit orang langsung merasa khawatir.

“Jangan kebanyakan, nanti darah tinggi.”
“Habis makan kambing pasti kolesterol naik.”
“Kalau punya asam urat tidak boleh makan daging sama sekali.”

Kalimat seperti ini sudah sangat sering kita dengar di masyarakat. Tapi sebenarnya, mana yang benar secara medis dan mana yang hanya mitos?

Supaya tidak salah paham, yuk pahami fakta seputar daging kambing dan daging sapi berikut ini.

Apa Itu Daging Merah?

Daging kambing dan daging sapi termasuk kelompok daging merah. Disebut daging merah karena kandungan mioglobin pada otot hewan cukup tinggi sehingga warna daging tampak merah.

Daging merah sebenarnya mengandung banyak nutrisi penting untuk tubuh, seperti:

  • Protein
  • Zat besi
  • Vitamin B12
  • Zinc
  • Fosfor
  • Selenium

Nutrisi tersebut berperan penting dalam:

  • Membentuk dan memperbaiki jaringan tubuh
  • Menjaga massa otot
  • Membantu pembentukan sel darah merah
  • Mendukung daya tahan tubuh

Artinya, daging merah bukan makanan yang harus dihindari sepenuhnya. Yang penting adalah jumlah konsumsi dan cara pengolahannya.

Baca Juga : Contoh Olahan Daging Kambing dan Sapi yang Lebih Aman untuk Kesehatan, Tetap Nikmat tanpa Takut Kolesterol

Daging Kambing Selalu Membuat Darah Tinggi ?

Mitos
Ini adalah salah satu mitos paling populer.

Banyak orang merasa pusing atau wajah memerah setelah makan sate kambing, lalu langsung menyimpulkan bahwa daging kambing menjadi penyebab tekanan darah naik.

Padahal secara medis, daging kambing tidak otomatis langsung menyebabkan hipertensi. Yang lebih sering memicu kenaikan tekanan darah justru:

  • Konsumsi garam berlebihan
  • Makanan tinggi lemak dan santan
  • Porsi makan terlalu banyak
  • Kurang minum air putih
  • Kurang tidur dan stres

Selain itu, efek psikologis juga bisa berpengaruh. Ketika seseorang sudah percaya bahwa makan kambing pasti membuat darah tinggi, tubuh bisa merespons dengan rasa cemas yang memicu jantung berdebar atau tekanan darah sementara meningkat.

Namun bagi penderita hipertensi, konsumsi daging merah tetap perlu dibatasi agar tidak berlebihan.

Daging Kambing Tidak Selalu Lebih Tinggi Lemak daripada Daging Sapi ?

Fakta. Banyak orang menganggap daging kambing lebih “berbahaya” dibanding daging sapi.

Padahal faktanya, beberapa bagian daging kambing justru memiliki kandungan lemak lebih rendah dibanding potongan tertentu pada daging sapi.

Yang paling menentukan dampaknya terhadap kesehatan adalah:

  • Bagian daging yang dipilih
  • Cara memasak
  • Frekuensi konsumsi
  • Jumlah porsi

Jadi, bukan berarti makan kambing otomatis lebih buruk dibanding makan sapi.

Makan Daging Langsung Membuat Kolesterol Naik ?

Mitos. Tidak sepenuhnya benar.

Kolesterol tinggi biasanya terjadi karena kombinasi banyak faktor, seperti:

  • Pola makan tinggi lemak jenuh
  • Kurang olahraga
  • Obesitas
  • Merokok
  • Faktor genetik
  • Konsumsi makanan berlebihan dalam jangka panjang

Satu kali makan sate atau gulai sebenarnya tidak langsung membuat kolesterol melonjak drastis pada orang sehat.

Namun jika konsumsi daging merah dilakukan terus-menerus dalam jumlah berlebihan tanpa pola hidup sehat, risiko kolesterol tinggi memang dapat meningkat.

Porsi Konsumsi Daging Merah Tetap Harus Dibatasi !

Fakta Penting
Meski mengandung protein dan zat gizi penting, konsumsi daging merah tetap perlu dikontrol.
Untuk orang dewasa sehat, anjuran konsumsi daging merah umumnya sekitar:
  • 50–70 gram per hari atau
  • sekitar 350–500 gram per minggu dalam kondisi matang
Sebagai gambaran sederhana:
  • 1 potong sedang daging sekitar 50 gram
  • 5–7 tusuk sate ukuran standar bisa mencapai sekitar 60–75 gram daging
  • 1 porsi gulai atau rendang kadang bisa melebihi 100 gram

Inilah yang sering tidak disadari. Saat momen tertentu, seseorang bisa mengonsumsi daging jauh lebih banyak dari kebutuhan harian tubuh.

Karena itu, yang perlu dijaga bukan hanya jenis dagingnya, tetapi juga total porsinya.

Apakah Cara Mengolah Daging Sangat Menentukan Dampaknya bagi Kesehatan ?

Fakta. Sering kali masalah bukan berasal dari dagingnya, tetapi dari cara pengolahannya.

Contohnya:

  • Gulai dengan santan berlebihan
  • Daging goreng berminyak
  • Penggunaan garam terlalu banyak
  • Daging dibakar hingga gosong

Bagian daging yang hangus akibat pembakaran berlebihan dapat menghasilkan senyawa yang kurang baik bagi kesehatan jika terlalu sering dikonsumsi.

  • Agar lebih sehat, Anda bisa:
  • Memilih bagian rendah lemak
  • Mengurangi santan dan minyak
  • Memperbanyak sayur dan buah
  • Mengontrol porsi makan
  • Tidak makan berlebihan dalam satu waktu
  • Menghindari pembakaran sampai hangus

Penderita Asam Urat Tidak Boleh Makan Daging Sama Sekali ??

Mitos. Tidak sepenuhnya benar.

Penderita asam urat, hipertensi, maupun kolesterol tinggi sebenarnya masih bisa mengonsumsi daging merah dalam jumlah terbatas sesuai kondisi kesehatan masing-masing.

Yang perlu diperhatikan adalah:

  • Ukuran porsi
  • Frekuensi konsumsi
  • Jenis olahan
  • Kondisi medis individu

Pada penderita asam urat, konsumsi daging merah berlebihan memang dapat meningkatkan kadar purin yang memicu kekambuhan.

Karena itu, konsultasi dengan dokter atau ahli gizi sangat penting agar pola makan tetap aman dan seimbang.

Jadi, Bolehkah Makan Daging Kambing dan Daging Sapi?

Jawabannya boleh, selama tidak berlebihan.

Dalam dunia medis, hampir tidak ada makanan yang langsung berbahaya jika dikonsumsi secara bijak. Yang paling penting adalah menjaga keseimbangan pola makan dan gaya hidup sehat.

Kunci utamanya:

  • Kontrol porsi
  • Pilih olahan yang lebih sehat
  • Perbanyak sayur dan buah
  • Tetap aktif bergerak
  • Periksa kesehatan secara rutin

Jadi Anda tetap bisa menikmati sate kambing, gulai, atau olahan daging sapi tanpa rasa takut berlebihan, asalkan konsumsi tetap terkontrol.

Kapan Harus Waspada?

Segera konsultasikan ke dokter jika muncul keluhan seperti:

  • Tekanan darah tinggi tidak terkontrol
  • Nyeri dada
  • Sesak napas
  • Pusing berat
  • Nyeri sendi hebat
  • Kadar kolesterol atau asam urat meningkat

Pemeriksaan rutin penting dilakukan untuk memantau tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan asam urat secara berkala.

Jika Sobat Roemani memiliki keluhan terkait hipertensi, kolesterol, asam urat, atau gangguan kesehatan lainnya, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter Internist / Spesialis penyakit dalam di RS Roemani Muhammadiyah Semarang.

Lokasi dan Informasi Layanan

📍 Instalasi Poliklinik – RS Roemani Muhammadiyah Semarang
Jl. Wonodri No 22, Semarang
☎️ (024) 8444625 / 8444626
📱 WhatsApp Customer Service: 089531464260

📅Cek jadwal Poliklinik RS Roemani

📅 Pendaftaran Online RS Roemani


Buka
Senin - Jumat      07.00 - 21.00
Sabtu                   07.00 - 19.00


Rumah Sakit Roemani Muhammadiyah Semarang

Rumah Sehat Keluarga Islami

Tags:
mitos dan fakta daging kambing daging kambing dan kolesterol manfaat daging kambing untuk kesehatan daging sapi untuk kesehatan daging kambing untuk hipertensi porsi aman makan daging merah apakah daging kambing berbahaya tips sehat makan daging kurban fakta medis daging kambing

Tidak ada Komentar

Komentar Baru